Sabtu, 01 Februari 2014

Makna 'Beli Indonesia'


Salah satu pertanyaan yang muncul ketika orang pertama kali mendengar kalimat Beli Indonesia adalah, apakah Beli Indonesia itu sebuah konsep bisnis untuk kompetisi produk? jawabnya, Bukan!. “Beli Indonesia adalah sebuah konsep pembangunan karakter ketika karakter itu sudah hilang dari kehidupan bangsa Indonesia saat ini. Beli Indonesia adalah jawaban atas nation anxiety atau kegelisahan bangsa ketika rakyat Indonesia setiap hari menyaksikan bangsa ini diwarnai oleh keburukan,” kata Presiden IIBF Heppy Trenggono di depan peserta kajian Kebangkitan Ekonomi Indonesia, di Bandung, Sabtu siang. Beli Indonesia, lanjut Heppy bukan sebuah slogan untuk mengajak orang mencintai produk Indonesia tetapi adalah sebuah sikap pembelaan terhadap produk milik bangsa sendiri. “Jika Indonesia mau keluar dari keterpurukannya saat ini maka satu-satunya jalan adalah bangsa ini harus membela produknya sendiri,” jelas Heppy.

Hari ini, bangsa Indonesia tidak tahu apa yang dibelanya. Departemen Perdagangan setiap hari beriklan tentang slogan “cinta 100% produk Indonesia” tetapi pada saat yang sama justru membebaskan produk asing menyerbu pasar Indonesia. Bahkan pembelaan terhadap asing itu dilakukan membabi buta dengan membeli produk-produk yang jauh lebih buruk dari yang diproduksi oleh bangsa sendiri. MA 60 yang jelas-jelas tidak memiliki lisensi dibeli dan dipakai oleh negara. Padahal CN 235 buatan PTDI jauh lebih baik. “Departemen ini berjualan untuk bangsa sendiri atau menjual untuk bangsa lain?” tanya Heppy. Mengapa bisa terjadi seperti ini? Karena bangsa ini sudah kehilangan karakternya sehingga tidak jelas lagi apa yang dibelanya. Maka kebijakan-kebijakan yang dibuatnya menyebabkan negara semakin terpuruk.

Hari ini Indonesia sudah tidak lagi membangun karakter unggul bangsanya. Karena itu yang terbangun adalah karakter buruk. Setiap hari dilayar-layar televisi muncul kisah-kisah tentang keburukan baik dilakukan oleh para elit ataupun orang biasa. “Seolah-olah bangsa kita sudah tidak percaya bahwa kita bisa membangun bangsa ini dengan nilai-nilai kebaikan,” ungkap Heppy. Orang tidak lagi membangun karakter tetapi yang dibangun adalah citra, merk atau brand. Maka tidak heran jika ada pejabat publik yang beriklan setiap hari dengan memasang foto di halaman-halaman koran atau majalah. Juga banyak yang ingin jadi pejabat dengan memasang fotonya di pohon-pohon atau di angkutan umum. Mengapa? Karena hari ini kita sudah terseret ke dalam pembangunan merek atau branding dan lupa membangun karakter.

Maka Beli Indonesia bukanlah slogan membangun merek tetapi membangun karakter, yakni karakter pembelaan pada setiap diri anak-anak negeri ini. Beli Indonesia bukan sebuah konsep bisnis untuk memenangkan pertarungan pasar bebas tetapi adalah sikap pembelaan terhadap bangsa sendiri ketika kehidupan bangsa ini sudah dikuasai orang lain. “Kita tidak bisa keluar dari keterpurukan dan kemiskinan jika hari ini kita menggunakan konsep bisnis, dan itu bukanlah jawaban. Kita akan memenangkan pertempuran dan keluar menjadi bangsa besar dan jaya jika kita memliki karakter,” kata Heppy yakin. Heppy menambahkan, karakter itu juga menyangkut keyakinan diri. Indonesia tidak bisa bangkit karena tidak yakin bahwa dirinya adalah bangsa besar. Hutang negara Rp. 1.700 triliyun seolah-olah seperti kiamat yang tidak bisa diselesaikan. Dan APBN Rp.1.200 triliyun dianggap sangat besar. “Untuk negara sebesar Indonesia angka itu adalah angka anak kecil. Mengapa besar? Karena kita bermain seperti anak kecil dan tidak cukup memiliki keyakinan sebagai bangsa besar,” jelas Heppy. Padahal untuk membangun negara sebesar ini, kata Heppy, perlu puluhan ribu trilyun setiap tahunnya. Dengan APBN Rp. 1.200 triliyun Indonesia tidak kemana-mana, apalagi sebagian besar uang itu digunakan untuk konsumsi.

Kajian Kebangkitan Ekonomi Indonesia di aula Telkom ini diselenggarakan oleh IIBF Jawa Barat. Hadir juga beberapa pembicara antara lain asisten dua gubernur Jawa Barat sebagai Keynote Speaker, Direktur Telkom, dan ketua Tim ahli pemprov Jawa Barat, Dr. Husein AlBanjary. Dr. Husein yang hadir sebagai panelis bersama Heppy Trenggono mengungkap bahwa Gerakan Beli Indonesia ini adalah semangat baru yang muncul di tengah-tengah kepesimisan terhadap masa depan bangsa ini. “Ini adalah sesuatu yang baru yang berbeda dengan gerakan-gerakan lain karena penggeraknya adalah para pengusaha, sebuah klompok masyarakat yang selama ini dianggap tidak peduli terhadap masalah nasionalisme,” kata Husein. Husein meyakini gerakan ini akan menjadi gerakan massif karena didalamnya ada core mover atau penggerak inti yang terus melakukan pendidikan kepada masyarakat. Dari keseluruhan gagasan yang ada dalam Beli Indonesia ini, menurut mantan ahli helikopter IPTN ini, adalah jawaban dari kegelisahan yang dirasakan oleh sebagian besar rakyat Indonesia. “Banyak orang ingin melakukan sesuatu untuk memperbaiki keadaan tetapi tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Gerakan ini menjadi semacam artikulasi dari kegelisahan itu,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua IIBF Wilayah Jawa Barat Riza Zacharias dalam sambutannya mengatakan bahwa spirit Beli Indonesia ini sudah ada dalam setiap diri masyarakat Jawa Barat dalam bentuk kearifan lokal dan nilai-nilai yang tumbuh di masyarakat Jawa Barat. “Kita mengadakan acara ini untuk mengingatkan dan menghidupkan lagi semangat itu ketika banyak masyarakat kita sudah mulai lupa dengan identitasnya, nilai-nilainya dan apa yang seharusnya mereka bela,” kata Riza. IIBF Jabar kata Riza akan terus menyebarkan semangat ini dengan cara memulai dari diri sendiri, keluarga, perusahaan hingga ke seluruh Jawa Barat dengan cara menjalin sinergi bersama pemerintah provinsi dan komponen masyarakat. (AA) 







Sumber : 1. Artikel : http://beliindonesia.com/
              2. Video : http://www.youtube.com/watch?v=C2WcV28av6o

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Heartline "Plasst~ - Premium Blogger Themes | coupon codes